Thursday, February 4, 2010

Kau!

Pergilah!
Dari jiwa yang terdalam
Jangan tinggalkan sedikitpun bekas
Biar aku bisa bebas
Tanpa terjerat perasaan
Ya!
Kau!
Angkat kaki dari hatiku
Jangan kembali..

Sulit

Sejak zaman apa persahabatan menjelmakan cinta?
Kelakarmu yang selalu menggelak tawa
Menyeduh semburat cinta di sepotong hatiku
Mengawang

Mengapa harus mudah mematri namamu
Di sebagian hati ini?
Menyingkap cinta yang tlah lama terluka
Trauma

Bosan rasanya
Mendengar bahana degup jatung
Saat kau dekat, tersenyum

Tak mudah bagimu
Menerima senja bersiluet ini
Dengan aku di tepi pantai
Menunggu jawabmu
Dan kau akan jawab
Tidak!

Kukukuhkan
Aku akan mengikis semuanya
Mengilhami hidup
Dengan memotong memori beberapa hari lalu
Membentangkan harap untuk tidak cintaimu
Sulit!

Lupa

Apa yang membuat aku mencintamu
Naungan teduh matamu
Genangi ruang jiwa dengan cinta
Giringi segala benci
Ingkari segala sedih
Terangi segala gelap
Acuhi segala lelaki

Tak bisakah kau lenggangkan bayangmu?
Ratap rindu tak henti menggaung
Intipi setiap reluh nafas

Yakinkah kau tak bisa balas rasa ini?
Untaian penantian ini menunggumu sayang
Rengkuhanmu telah dirindukan
Impian tentangmu belum bisa kugantikan
Seharusnya, tak ku seduh cinta ini
Warna hitam tak usah kumerahkan
Olehmu aku menangis
Ragaku semakin miris
Olehmu lagi

Aku Cinta Kamu

Angkuh terukir menyembahi persahabatan
Nestapa hilang hanya dengan senyummu sayang
Glamoria cinta menghamba pada luka kemirisan
Gelapi mata, senyapi jiwa
Ironis!
Teriak? Bolehkah?
Andai saja kau mudah mencintaiku

Terpapar hati dengan rasa
Rembesi keterpakuan dengan lamunan
Ingat kau lagi, ingat kau lagi

Yang tercinta..
Untuk yang tercinta
Reruang menodos kesendirian
Ingin tak ku gandrungi rasa ini
Sepotong hatiku melawan untuk cintaimu
Walau begitu, semuanya tak bisa sirna
Ornamen kepiluan menghiasi kekalutan
Rentan sudah perasaanku
Olehmu..

Saya Tidak Bisa Buat Judul

Memajang lirik-lirik lirih lagu pada setiap kehidupan
Membentuk khayalan sebelum mata terpejam
Ketika waktu seperti tak berjalan
Menyulam kebahagiaan pada kemelaratan perasaan
Hanya ada kebusukan

Bosan atas semua
Mungkin inilah yang tak teristimewa
Tidak bisa tetap menjadi putih
Tak ternodai warna-warni
Yang mungkin terasa indah
Hanya ada kebusukan

Satu Saja Cukup

Seperti matahari terbit
Aku mencoba menenangkan air
Menapak sampai tenggelam
Bertahan sampai terbit lagi

Tolonglah, kumohon
Jangan berikan matahari dan bulan
Bergandengan dalam satu waktuku
Jangan warnai hijau dan layu daun
Terlukis dalam satu karyaku

Biarkan air tetap dapat mengalir
Walau dapat membeku
Meski bisa terkikis
Seperti aku

Mabuk

Figurmu mengimpulsi jantung berdetak takikardi
Mensekresi cinta di tetesan keringat
Kau mencair mengomposisi plasma darah
Menganastesi sistem sadarku

Aku pecundang
Mencintai malaikat
Seakan ku ingkari ayat-ayat Tuhan
Atau legitimasi cinta sederajat

Aku pendosa
Tergilai aura nabi
Yang hanya bisa mencium bibirnya
Dengan wangi alkohol yang semalaman kuteguk
Agar kau lekang
Tak juga kau lekang
Tetap menginvasi saraf, darah, raga

Tambah lagi segelas
Sampai aku lupa
Tambah lagi segelas
Sampai aku lupa
Aku jatuh cinta

Wednesday, February 3, 2010

Sedih

sedih memojok di dinding ventrikel jantungku

tak perlu berdifusi ke seluruh tubuh untuk semakin membuatku demam

sudah kutanyakan

sampai kapan dia bersemayam di pojok sana

jawabnya...

sampai mereka tak ingkar janji yang berjuta kali di umbar

aku bosan

berharap

tersungkur kembali

kecewa

asa ku sudah rombeng dicabik-cabik monster yang entah berantah

sudahsudah

tak usah lagi merayuku menari di antara hingarbingar

aku disini saja

pada kotak sempit sepi

suruh saja camar datang

setidaknya

dengan dia bernyanyi

pekatku sirna